Tarwiyah, Momen untuk Merenung
Hari Tarwiyah itu tanggal 8 Zulhijah. Hari itu jemaah haji mulai bergerak dari Makkah ke Mina. Jemaah menuju Mina ini "harus” ke sana bukan karena wajib fi’li, tapi karena itu sunnah Nabi saw. dan bagian dari rangkaian manasik.

Hari Tarwiyah itu tanggal 8 Zulhijah. Hari itu jemaah haji mulai bergerak dari Makkah ke Mina. Jemaah menuju Mina ini "harus” ke sana bukan karena wajib fi’li, tapi karena itu sunnah Nabi saw. dan bagian dari rangkaian manasik.
Kata _tarwiyah_ dari kata _rawiya_ berarti memberi minum sampai puas. Penamaan ini bermula pada zaman dahulu, jemaah dan hewan kurban belum bawa air banyak. Mereka berhenti di Mina tanggal 8 Zulhijah untuk minum, mengisi bekal air, dan istirahat sebelum ke Arafah yang tandus. Jadi tarwiyah adalah “hari memberi minum”.
Ada juga riwayat bahwa Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail tanggal 8 Zulhijjah. Beliau _tarawwa_ bermakna merenung, mikir: “Ini mimpi dari Allah Swt. atau bukan?”. Dari riwayat itu disebutlah tarwiyah.
Selain itu, terdapat dalil dan Sunnah Nabi saw. Nabi saw. berangkat ke Mina tanggal 8 Zulhijah setelah salat zuhur, lalu bermalam di sana.
Jabir bin Abdillah berkata sebagaimana diriwayatkan Muslim: “Nabi saw. memerintahkan kami ketika hendak berangkat ke Mina agar berihram. Kami berangkat ke Mina, lalu salat zuhur, asar, magrib, isya, dan subuh di sana. Kemudian beliau berangkat ke Arafah setelah matahari terbit.”
Jadi yang “harus” dilakukan bukan menginap di Mina itu sendiri, tapi Wukuf di Arafah tanggal 9. Menginap di Mina tanggal 8 adalah sunnah muakkadah, mengikuti Nabi saw.
Hikmah kenapa ada hari Tarwiyah.
Pertama, persiapan fisik dan mental. Perjalanan Makkah ke Arafah 22 km, dahulu dilalui dengan jalan kaki. Butuh istirahat di Mina biar kuat Wukuf besoknya. Sekarang pakai bus juga tetap membutuhkan jeda. Kalau langsung dari Makkah ke Arafah tanggal 9, jemaah kelelahan dan tidak khusyuk ibadah.
Kedua, latihan hidup sederhana. Di Mina tidak ada hotel mewah. Tenda, berdesakan, panas. Itu latihan tentanh "hidup ini sementara. Aku bisa hidup cukup dengan tenda dan roti”. Mirip Padang Mahsyar nanti.
Ketiga, pemisah antara umrah dan haji. Bagi yang haji Tamattu’, tanggal 8 itu momen ganti dark mode dari umrah selesai, masuk manasik haji. Ihram haji dimulai lagi, talbiyah dikumandangkan lagi.
Keempat, mengikuti sunnah Ibrahim dan Muhammad. Kita ulang lagi kisah Ibrahim yang mikir semalaman sebelum menyembelih Ismail. Kita juga mikir semalaman di Mina: “Besok aku mau ngomong apa di hadapan Allah di Arafah?”
Kelima, kalau tidak ke Mina tanggal 8, bagaimana? Hukumnya: Tidak apa-apa, haji tetap sah, karena rukun itu wukuf Arafah tanggal 9. Menginap di Mina malam Tarwiyah itu sunnah.
Akan tetapi sekarang karena jemaah padat, banyak jemaah Indonesia langsung berangkat ke Arafah malam 8 Zulhijah agar memperoleh tempat. Hal ini boleh, asal jangan tinggal Wukuf.
Hal-hal yang dilakukan di hari Tarwiyah, yaitu: (1) salat 5 waktu qashar tanpa jama’: zuhur 2 rakaat, asar 2 rakaat, dst. Sesuai sunnah; (2) perbanyak talbiyah*: “Labbaik Allahumma labbaik…”; (3) zikir, tilawah, muhasabah*: Besok Arafah, hari paling penting, maka persiapkan doa; (4) Istirahat: simpan tenaga untuk wukuf.
Tarwiyah bukan rukun haji, tapi _pos istirahat_ yang Nabi ajarkan. Posisi kita kayak musafir hendak ketemu Raja. Malamnya menginap dulu, mandi, siap-siap, biar besok pas ketemu Raja di Arafah, hati dan badan siap.
Oleh: Sholikin Jamik
Sumber : https://lenteramu.or.id/post/tarwiyah-momen-untuk-merenung/
