logo

Written by Super User on . Hits: 56

ANTARA PISAU DAN PELUKAN:

PARADOKS PENGORBANAN DALAM IDUL ADHA

* Drs. Aunur Rofiq, MH.

  1. PENDAHULUAN; Sebuah Kisah yang Tak Pernah Usai

Idul Adha adalah hari raya pengorbanan yang menahbiskan peristiwa paling paradoksal dalam sejarah keimanan: seorang ayah yang mengangkat pisau ke leher putranya justru karena cinta—kepada Allah dan kepada sang putra itu sendiri.  Ini adalah sebuah kisah dalam sejarah keimanan umat manusia yang tak pernah selesai diceritakan—bukan karena kata-kata tidak mampu meriwayatkannya, melainkan karena kedalamannya melampaui setiap generasi yang mencoba memahaminya. Sebuah pergulatan antara cinta yang meluap dan kepatuhan yang tak terbatas. Kisah itu terjadi ribuan tahun lalu di sebuah lembah gersang di tanah Mina, ketika seorang ayah tua berjalan bersama putra remajanya menuju sebuah tempat penyembelihan—dan yang hendak disembelih bukanlah seekor hewan, melainkan sang putra itu sendiri. Ayah itu bernama Ibrahim, putranya bernama Ismail, dan perintah itu datang dari Allah, Tuhan semesta alam.

Al-Qur'an meriwayatkan dalam  Al-Shaffat: 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

"Maka ketika anak itu telah mencapai usia untuk berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, pikirkanlah apa pendapatmu.' Ia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Al-Shaffat [37]: 102)

Bayangkan momen itu dengan seluruh kapasitas imaginasi yang kita miliki. Seorang ayah yang telah menunggu kehadiran anak selama puluhan tahun—Ibrahim baru dikaruniai Ismail di usia yang sangat lanjut, setelah penantian panjang yang nyaris tanpa harapan. Ismail bukan sekadar anak; ia adalah mukjizat, jawaban doa seumur hidup, buah dari kesabaran yang melampaui batas manusiawi. Dan justru ketika buah itu telah matang, ketika Ismail telah tumbuh menjadi remaja yang mampu bekerja bersama ayahnya, ketika hubungan ayah-anak itu mencapai puncak keindahannya—justru di momen itulah perintah datang: sembelihlah dia.

Di sinilah paradoks itu muncul. Pisau dan pelukan bertemu dalam satu tangan yang sama. “Cinta” dan “kehilangan” berdiri di ambang pintu yang sama. “Ketaatan” dan “kesakitan” melebur dalam satu air mata yang sama.  Paradoks yang paling fundamental dalam eksistensi manusia: bahwa ada bentuk kepemilikan yang hanya bisa dicapai melalui pelepasan, bahwa ada pelukan yang hanya bisa dirasakan melalui pisau, bahwa ada penerimaan yang hanya datang setelah penyerahan, yang  inti filosofis terdalam dari peristiwa pengorbanan itu adalah  bahwa melepaskan adalah memiliki, bahwa menyerahkan adalah menerima, bahwa kematian ego adalah kelahiran jiwa. Dan dari paradoks inilah seluruh makna Idul Adha lahir—sebuah makna yang seperti sumber air yang tak pernah kering, terus memancarkan hikmah bagi setiap generasi berikutnya.

  1. ANALISIS

Agar tidak disalahpahami, maksud Paradoks di sini adalah suatu pernyataan, situasi, atau fenomena yang sekilas tampak mustahil, bertentangan, atau berlawanan dengan logika atau akal sehat, namun setelah diteliti lebih dalam, ternyata mengandung kebenaran,  jadi   hakikat Paradoks, adalah sesuatu yang tampak kontradiktif atau absurd pada permukaan, namun menyimpan kebenaran yang lebih dalam di baliknya. Paradoks adalah sebuah tegangan kreatif antara dua kebenaran yang tampak saling bertentangan, namun sesungguhnya saling melengkapi pada level pemahaman yang lebih tinggi.

Peristiwa qurban Ibrahim adalah paradoks par excellence—paradoks yang paling murni, paling tajam, dan paling kaya dalam seluruh tradisi keagamaan umat manusia. Dan dari paradoks ini, seluruh makna Idul Adha memancar.

  1.  Pisau dan Pelukan— Kehilangan dan  Penerimaan Kembali

Dimensi paradoks yang paling menggugah dalam peristiwa qurban Ibrahim adalah pertemuan antara pisau dan pelukan dalam satu narasi yang sama.

Secara fenomenologis, pisau  adalah instrumen pemisahan. Ia memotong, membelah, memisahkan yang satu dari yang lain. Dalam konteks qurban, pisau adalah simbol dari kehilangan total—kehilangan yang paling menakutkan yang bisa dibayangkan oleh seorang ayah: kehilangan anak. Pisau yang dipegang Ibrahim bukan sekadar alat fisik; ia adalah wujud dari segala ketakutan, kesakitan, dan keputusasaan yang mungkin dialami oleh seorang manusia yang diminta untuk melepaskan apa yang paling ia cintai.

Pada level permukaan, pisau dan cinta tampak sebagai dua hal yang saling bertentangan. Pisau melukai, cinta menyembuhkan. Pisau memisahkan, cinta menyatukan. Pisau adalah instrumen kekerasan, cinta adalah instrumen kelembutan. Bagaimana mungkin pisau menjadi instrumen cinta? Faktanya, pisau Ibrahim bukan pisau pembunuh; ia adalah pisau cinta—pisau yang memotong ikatan palsu agar ikatan sejati bisa terjalin. Yang dipotong bukan leher Ismail, melainkan rantai keterikatan yang membelenggu hati Ibrahim dari cinta yang lebih tinggi—cinta kepada Tuhan.

Pelukan, sebaliknya, adalah simbol dari penerimaan, kedekatan, kepemilikan yang penuh kasih. Ketika seseorang memeluk anaknya, ia mengekspresikan cinta mendalam, perlindungan, dan ikatan yang tak terputuskan. Pelukan Ibrahim kepada Ismail—sebelum, selama, dan terutama setelah peristiwa qurban—adalah representasi dari hubungan ayah-anak yang paling intim dan paling sakral.

Yang menakjubkan adalah Ibrahim rela mengangkat pisau, justru karena ia rela melepaskan Ismail demi Tuhannya, Allah, pelukan yang ia terima kembali menjadi tak terkira, lebih bermakna, lebih dalam, dan lebih abadi. Ismail yang "dikembalikan" oleh Allah—melalui penggantian penyembelihan dengan seekor kibas yang besar—bukan lagi Ismail yang "dimiliki" oleh Ibrahim sebagai ayah biologis. Ia adalah Ismail yang merupakan karunia Allah, amanah Allah, tajalli (penampakan) kasih sayang Allah. Ibrahim tidak kehilangan Ismail—ia justru menemukan Ismail dalam level yang jauh lebih tinggi dan lebih sejati.

Al-Qur'an menggambarkan resolusi paradoks ini dalam QS. Al-Shaffat 103-107 : "Maka ketika keduanya telah berserah diri (aslamaa) dan Ibrahim telah membaringkannya di pelipisnya. Dan Kami panggil dia: 'Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikian Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Al-Shaffat [37]: 103-107)

Perhatikan kata  اَسْلَمَا —"keduanya telah berserah diri." Kata ini berasal dari akar kata yang sama dengan Islam: penyerahan diri total kepada Allah. Pada momen penyerahan total, benar-benar ikhlas—pada momen itulah justru datang penyelamatan. Pisau yang diangkat untuk memisahkan, justru menjadi sarana penyatuan kembali yang lebih tinggi. Ibrahim tidak "kehilangan" apa pun, ia justru mendapatkan segalanya: Ismail dikembalikan, iman diuji dan terbukti, dan gelar Khalilullah (Kekasih Allah) disematkan padanya sebagai penghargaan tertinggi.

Dalam bahasa Rumi dinyatakan : Ketika Ibrahim mengangkat pisau itu, seluruh alam semesta menahan napas. Para Malaikat menangis. Iblis tertawa, mengira ia telah menang. Tapi ketika pisau itu turun—dan Allah menggantikan Ismail dengan kibas—saat itulah seluruh alam semesta memahami sesuatu yang tak pernah dipahami sebelumnya, bahwa cinta yang rela kehilangan,  justru adalah cinta yang tak pernah bisa kalah."

  1.  Kepemilikan dan Keikhlasan—Memiliki dengan Melepaskan

Paradoks kedua yang terkandung dalam peristiwa qurban Ibrahim menyentuh salah satu pertanyaan paling fundamental dalam eksistensi manusia: Apa artinya "memiliki" sesuatu?

Dalam pemahaman umum, "memiliki" berarti menguasai, mengontrol, dan mempertahankan sesuatu untuk diri sendiri. Semakin erat genggaman kita pada sesuatu, semakin kita "memilikinya." Dalam logika ini, melepaskan adalah kebalikan dari memiliki—ia adalah kehilangan, kekalahan, kemiskinan. Budaya konsumeris modern memperkuat logika ini secara masif: identitas seseorang didefinisikan oleh apa yang ia miliki (you are what you own), kebahagiaan diukur oleh kuantitas kepemilikan, dan “ketakutan terbesar adalah kehilangan”.

Peristiwa qurban Ibrahim membalikkan seluruh logika ini secara radikal. Ibrahim "memiliki" Ismail dalam pengertian konvensional—Ismail adalah putranya, darah dagingnya, belahan jiwanya. Namun, justru karena kepemilikan konvensional ini, hubungan Ibrahim dengan Ismail mengandung potensi bahaya spiritual yang sangat serius: bahaya ta'alluq—keterikatan yang menjadikan makhluk sebagai saingan Pencipta dalam hati. Al-Ghazali dalam Iḥya' 'Ulumuddin menjelaskan bahwa “setiap bentuk cinta kepada makhluk yang tidak disubordinasikan di bawah cinta kepada Allah berpotensi menjadi syirk khafi—kemusyrikan tersembunyi yang lebih halus dari jejak semut hitam di atas batu hitam di malam gelap”.

Perintah untuk menyembelih Ismail, dalam kerangka ini, bukanlah tindakan kekejaman Ilahi—ia adalah operasi pembebasan spiritual yang paling radikal. Allah tidak menginginkan Ismail mati; Allah menginginkan Ibrahim bebas—bebas dari keterikatan yang memperbudak, bebas dari kepemilikan yang mencekik, bebas dari cinta yang menyekutukan. Pisau yang diperintahkan untuk memotong leher Ismail sesungguhnya dimaksudkan untuk memotong rantai ta'alluq yang mengikat hati Ibrahim—dan dengan terputusnya rantai itu, Ibrahim justru mampu mencintai Ismail dengan cinta yang lebih murni, lebih suci, dan lebih abadi: cinta yang bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah.

Ini adalah paradoks yang sangat dalam: Ibrahim baru benar-benar "memiliki" Ismail—dalam pengertian spiritual yang sejati—ketika ia rela melepaskannya. Selama Ismail masih "milik" Ibrahim dalam pengertian konvensional, Ismail adalah idol—berhala halus yang bersemayam di hati. Ketika Ibrahim melepaskan Ismail demi nama Allah, Ismail berubah status dari idol menjadi amanah—titipan ilahi yang dipercayakan untuk dijaga, bukan untuk digenggam. Dan hubungan dengan amanah jauh lebih indah, lebih ringan, dan lebih membahagiakan daripada hubungan dengan idol—karena amanah tidak membebani dan tidak memperbudak.

Erich Fromm, psikoanalis dan filsuf sosial Jerman, membedakan antara dua modus eksistensi: having (memiliki) dan being (mengada). Dalam modus having, manusia mendefinisikan dirinya melalui kepemilikan: “aku adalah apa yang aku punya”. Dalam modus being, manusia mendefinisikan dirinya melalui keberadaan dan hubungan autentiknya: “aku adalah apa yang aku alami, aku rasakan, aku berikan”. Fromm berargumen bahwa modus having pada akhirnya selalu menghasilkan kecemasan, karena segala yang dimiliki selalu bisa hilang. Sementara modus being menghasilkan ketenangan dan kebebasan, karena pengalaman dan keberadaan tidak bisa dirampas oleh siapa pun.

Peristiwa qurban Ibrahim, dalam kerangka ini  adalah transisi ekstrim dari modus having ke modus being dalam hubungannya dengan anak. Ibrahim berpindah dari "aku memiliki Ismail" (modus having yang menghasilkan kecemasan, jika kehilangan) menjadi "aku mengalami kehadiran Ismail sebagai karunia Allah" (modus being yang menghasilkan syukur dan ketenangan). Dan perpindahan ini hanya dimungkinkan melalui kerelaan untuk melepaskan—karena selama seseorang masih menggenggam, ia tidak bisa membuka tangan untuk menerima.

Metafora di sini menggambarkan tangan yang menggenggam erat—tangan yang "memiliki"  adalah tangan yang tertutup, tangan yang tidak bisa menerima apa pun, tangan yang melelahkan dan menyakitkan karena otot-ototnya terus menegang. Tangan yang terbuka—tangan yang telah "melepaskan"—adalah tangan yang siap menerima, tangan yang ringan dan bebas, tangan yang justru mampu menampung jauh lebih banyak, karena ia tidak dibatasi oleh genggaman. Ibrahim membuka tangannya—dan ke dalam tangan yang terbuka itulah, Allah menuangkan karunia yang tak terhingga: Ismail yang dikembalikan, iman yang teruji, keturunan yang menjadi pemimpin umat manusia, dan gelar Khalilullah yang abadi.

  1.  Kematian dan Kehidupan—Menyembelih untuk Menghidupkan

Secara literal, qurban adalah tindakan menyembelih—tindakan yang mengakhiri kehidupan biologis seekor hewan (atau dalam perintah awal, seorang manusia). Kematian, dalam pengalaman sehari-hari, adalah akhir—titik final, penghentian total, negasi absolut dari kehidupan. Namun, dalam peristiwa qurban Ibrahim, kematian justru menjadi pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih tinggi. Yang "mati" dalam qurban bukan Ismail, yang "mati" adalah ego Ibrahim, keterikatan dan kepemilikan Ibrahim. Dan dari kematian ego itulah lahir kehidupan spiritual yang baru: kehidupan dalam kebebasan, kehidupan dalam keikhlasan, kehidupan dalam kedekatan dengan Allah.

Nabi Ibrahim, pada momen qurban, mengalami fana' dalam pengertian yang paling nyata dan paling dramatis. Ia "mati" dari keinginannya sendiri (keinginan untuk mempertahankan Ismail), "mati" dari ketakutannya sendiri (ketakutan akan kehilangan), "mati" dari logikanya sendiri (logika yang mengatakan bahwa menyembelih anak adalah gila). Dan dari "kematian" ini, ia "hidup kembali" dalam kualitas yang sama sekali baru—hidup sebagai Khalilullah, hidup dalam keintiman dengan Allah yang melampaui segala bentuk hubungan manusiawi.

Jadi Seruan Allah dan Rasul—termasuk seruan untuk berqurban—adalah seruan kepada kehidupan, bukan kepada kematian. Qurban bukan tindakan yang mematikan; ia adalah tindakan yang menghidupkan. Yang "disembelih" adalah ego yang membelenggu, keterikatan yang memperbudak, ketakutan yang melumpuhkan—dan dari penyembelihan itu lahir manusia baru yang hidup dalam kebebasan, kedamaian, dan cinta.

  1.  Ketundukan dan Kebebasan—Islam sebagai Liberasi Tertinggi

Paradoks keempat menyentuh inti dari makna Islam itu sendiri: hubungan antara ketundukan (khudlu’) dan kebebasan (ḥurriyyah).

Dalam pandangan dunia sekuler-liberal modern, kebebasan diidentikkan dengan otonomi tanpa batas, dengan kemampuan untuk melakukan apa pun yang diinginkan tanpa batasan dari otoritas eksternal. Ketundukan, sebaliknya, dipandang sebagai antitesis kebebasan—sebagai perbudakan, penindasan, Hilangnya kewenangan/daya tindak. Dalam kerangka ini, agama—dengan segala perintah dan larangannya—sering dipandang sebagai musuh kebebasan, dan "menyerahkan diri kepada Tuhan" dianggap sebagai bentuk tertinggi dari ketidakbebasan.

Peristiwa qurban Ibrahim menantang seluruh kerangka pemahaman ini. Pada momen penyerahan diri total itulah Ibrahim mencapai kebebasan yang paling radikal dan paling total: kebebasan dari perbudakan ego, dari tirani keinginan, dari diktator ketakutan, dan kebebasan dari penjara kepemilikan.

Selama Ibrahim masih "menyangka" bahwa Ismail "ada" secara independen dari Allah—sebagai "milik"-nya yang berdiri sendiri—maka Ismail, betapapun dicintainya, adalah hijab (tabir) yang menghalangi Ibrahim dari Allah. Ketika Ibrahim rela "menyembelih" persangkaan ini—rela mengakui bahwa Ismail bukan miliknya, melainkan milik Allah—maka tabir itu terangkat, dan Ibrahim menjadi bebas secara ontologis: bebas dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Dan inilah kebebasan tertinggi, karena siapa yang hanya menghamba kepada Allah tidak akan pernah menghamba kepada apa pun—tidak kepada harta, tidak kepada jabatan, tidak kepada manusia, tidak kepada ketakutan, dan tidak kepada keinginan.

Rabi'ah al-Adawiyyah (wafat pada  185 H/801 M), sufi perempuan agung, mengekspresikan kebebasan ini dengan puisinya yang terkenal:

"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka halangilah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka janganlah Engkau sembunyikan Keindahan-Mu yang abadi dariku."

Ini adalah suara kebebasan yang paling murni: kebebasan dari segala motivasi selain cinta—termasuk kebebasan dari takut neraka dan harap surga, yang dalam pengertian tertentu juga bisa menjadi bentuk "perbudakan" (perbudakan oleh ketakutan dan keserakahan). Ibrahim, pada momen qurban, mencapai level kebebasan ini: ia tunduk bukan karena takut hukuman, bukan karena mengharap balasan, melainkan karena cinta yang melampaui segala kalkulasi—dan justru karena itulah ketundukannya adalah kebebasan tertinggi.

  1. Relevansi Kontemporer: Qurban di Zaman Ketakutan akan Kehilangan

Setelah menganalisis empat dimensi paradoks dalam peristiwa qurban Ibrahim, kini  memasuki pertanyaan yang paling urgen: apa relevansi paradoks ini bagi manusia kontemporer?

Kita hidup di sebuah era yang secara paradoksal ditandai oleh kelimpahan material dan kemiskinan makna. Di satu sisi, manusia modern memiliki lebih banyak barang, lebih banyak pilihan, lebih banyak informasi, dan lebih banyak koneksi daripada generasi mana pun dalam sejarah. Di sisi lain, tingkat kecemasan, depresi, kesepian, dan kehampaan eksistensial juga meningkat secara dramatis. Paradoks kelimpahan-kemiskinan ini bukan kebetulan—ia adalah konsekuensi logis dari “budaya keterikatan” yang menjadi fondasi masyarakat konsumeris.

Budaya konsumeris, pada dasarnya, adalah budaya yang mengajarkan manusia untuk menggenggam semakin erat—semakin banyak yang dimiliki, semakin baik; semakin banyak yang dikonsumsi, semakin bahagia; semakin erat genggaman, semakin aman. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh peristiwa qurban Ibrahim, genggaman yang semakin erat, justru menghasilkan kecemasan yang semakin besar—karena semakin banyak yang digenggam, semakin banyak yang ditakutkan akan hilang. Dan ketakutan akan kehilangan adalah salah satu sumber penderitaan yang paling fundamental dalam eksistensi manusia.

Filosofi qurban Ibrahim menawarkan terapi eksistensial yang sangat radikal untuk kondisi ini. Ia mengajarkan bahwa:

Pertama, segala yang kita "miliki" sesungguhnya adalah amanah. Anak, harta, kesehatan, jabatan, hubungan—semuanya adalah titipan yang diberikan untuk sementara dan akan diambil kembali pada waktunya. Bukan karena Allah kejam, melainkan karena segala sesuatu selain Allah memang bersifat fana (fana')—ia datang dan pergi, ia ada dan tiada, dan satu-satunya yang abadi adalah Allah sendiri:  "وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ . كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ"Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."(QS. Al-Rahman: 26-27)

Kedua, keikhlasan dalam melepaskan justru menghasilkan kedamaian yang tak bisa diberikan oleh genggaman. Tangan yang terbuka lebih damai daripada tangan yang menggenggam. Hati yang ikhlas lebih tenteram daripada hati yang cemas. Jiwa yang pasrah lebih bahagia daripada jiwa yang meronta. Ini bukan nasihat moralistik yang klise—ini adalah hukum eksistensial yang telah dibuktikan oleh Ibrahim dan oleh setiap manusia yang berani mengikuti jejaknya.

Ketiga, yang diberikan kepada Allah tidak pernah hilang—ia dikembalikan dalam bentuk yang lebih indah. Ismail dikembalikan kepada Ibrahim. Harta yang disedekahkan dikembalikan dalam bentuk berkah dan ketenangan jiwa. Ego yang "disembelih" dalam proses spiritual dikembalikan dalam bentuk nafs muṭma'innah—jiwa yang tenang dan damai. Ini adalah ekonomi ilahi yang logikanya terbalik dari ekonomi duniawi: dalam ekonomi duniawi, memberi berarti berkurang; dalam ekonomi ilahi, memberi berarti bertambah:

" مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةًۗ وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ"

"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya berlipat-lipat banyak." (QS. Al-Baqarah: 245).

Keempat, keterikatan (ta'alluq) pada makhluk justru merusak hubungan dengan makhluk itu sendiri. Orang tua yang terlalu possessive terhadap anaknya, justru merusak hubungan dengan anak. Suami yang terlalu cemburu justru menghancurkan pernikahannya. Manusia yang terlalu terobsesi dengan harta, justru diperbudak olehnya. Sebaliknya, ketika keterikatan ini dilepaskan—ketika hubungan dengan makhluk dibebaskan dari beban kepemilikan dan diserahkan kepada Allah—justru itulah hubungan menjadi indah, ringan, dan penuh berkah. Orang tua yang ikhlas membesarkan anaknya sebagai amanah Allah, justru memiliki hubungan yang paling indah dengan anaknya. Pasangan yang mencintai dengan tangan terbuka, justru memiliki pernikahan yang paling kuat.

  1. Qurban sebagai narasi tandingan Budaya Konsumeris

Budaya konsumeris berkata: "Ambillah!"—ambil sebanyak-banyaknya, konsumsilah tanpa batas, genggamlah semakin erat, karena kamu adalah apa yang kamu miliki.

Qurban berkata: "Berikan!"—berikan yang terbaik, lepaskan yang paling dicintai, buka tanganmu, karena kamu adalah apa yang kamu korbankan.

Budaya konsumeris berkata: "Takutlah kehilangan!"—lindungi asetmu, asuransikan segalanya, bangun tembok di sekeliling kepemilikanmu, karena kehilangan adalah bencana.

Qurban berkata: "Jangan takut kehilangan!"—karena apa yang diberikan kepada Allah tidak pernah hilang, karena tangan yang terbuka lebih kaya daripada tangan yang menggenggam, karena kebebasan dari ketakutan akan kehilangan adalah kekayaan yang paling berharga.

Budaya konsumeris berkata: "Hidup adalah akumulasi!"—semakin banyak yang dikumpulkan, semakin bermakna hidupmu.

Qurban berkata: "Hidup adalah distribusi!"—semakin banyak yang dibagikan, semakin bermakna hidupmu.

Setiap manusia memiliki "Ismail"-nya masing-masing. Bagi seorang ibu, "Ismail" mungkin adalah anaknya. Bagi seorang pengusaha, "Ismail" mungkin adalah bisnisnya. Bagi seorang intelektual, "Ismail" mungkin adalah reputasinya. Bagi seorang pemuda, "Ismail" mungkin adalah mimpinya. Bagi seorang pecinta, "Ismail" mungkin adalah hubungannya. Bagi seorang pejabat,  "Ismail" mungkin adalah jabatannya Dan bagi setiap manusia tanpa kecuali, "Ismail" paling mendasar adalah ego-nya sendiri—perasaan "aku" yang menjadi pusat dari segala keterikatan.

Idul Adha, setiap tahun, mengajukan pertanyaan eksistensial yang mengguncang: "Apa Ismail-mu? Dan sudahkah kamu siap menyerahkannya kepada Allah?"

Pertanyaan ini bukan pertanyaan teoretis yang bisa dijawab dengan mudah di atas kertas,  jawabannya berbeda bagi setiap orang, di setiap momen kehidupannya. Bagi seseorang, menyerahkan "Ismail" mungkin berarti merelakan anak yang telah dewasa untuk hidup mandiri. Bagi yang lain, mungkin berarti merelakan jabatan yang sudah tidak amanah. Bagi yang lain lagi, mungkin berarti merelakan hubungan toxic (hubungan yang meracuni). Dan bagi yang paling berani, mungkin berarti merelakan seluruh konsep tentang diri sendiri untuk dilahirkan kembali sebagai manusia baru yang hidup sepenuhnya untuk Allah.

Bayangkan momen ketika Ibrahim membaringkan Ismail dan keduanya telah menyerah sepenuhnya. Di momen itu, tidak ada lagi pergulatan, tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi tarik-menarik antara kehendak dan perintah. Yang ada hanyalah kedamaian absolut—sakinah—yang turun ke hati yang telah kosong dari segala kecuali Allah. Dan kedamaian itu, bagi siapa pun yang pernah merasakannya—bahkan dalam dosis yang jauh lebih kecil, dalam momen-momen penyerahan diri yang kecil sehari-hari—adalah pengalaman yang paling indah yang bisa dialami oleh jiwa manusia.

Inilah puncak keindahan spiritual yang ditawarkan oleh filosofi qurban—keindahan yang  justru tumbuh dari  penderitaan dan pengorbanan. Tanpa kesakitan pisau, tidak ada keindahan pelukan. Tanpa keberanian melepaskan, tidak ada keajaiban menerima kembali. Tanpa kematian ego, tidak ada kelahiran jiwa. Paradoks ini bukan masalah yang harus dipecahkan, melainkan misteri yang harus dihayati—dan dalam penghayatan itulah terletak keindahan tertinggi dari pengalaman manusia.

  1. Penutup

Perjalanan Nabi Ibrahim dan nabi Ismail  telah membawa kita pada sebuah pemahaman yang melampaui logika linier: bahwa paradoks bukan kegagalan pikiran, melainkan gerbang menuju kebenaran yang lebih tinggi—dan peristiwa qurban Ibrahim adalah paradoks terbesar yang pernah dialami oleh keimanan manusia, sekaligus gerbang terluas menuju pemahaman tentang hakikat cinta, kepemilikan, kebebasan, dan kehidupan itu sendiri.

Ribuan tahun telah berlalu sejak pisau itu dihunus. Peradaban telah datang dan pergi, kekaisaran telah berdiri dan runtuh, teknologi telah mengubah wajah bumi berkali-kali. Namun kisah itu tetap hidup—selalu kontemporer, selalu relevan, dan selalu menantang.

Kisah itu bukan lagi tentang masa lalu. Kisah itu tentang sekarang—tentang setiap momen ketika manusia berdiri di persimpangan antara genggaman dan pelepasan, antara ego dan cinta, antara takut dan iman.

Idul Adha bukanlah hari raya yang hanya datang setahun sekali. Ia adalah undangan yang selalu terbuka—undangan untuk berdiri di tempat Ibrahim pernah berdiri, untuk merasakan apa yang Ibrahim pernah rasakan, untuk memilih apa yang Ibrahim pernah pilih. Dan tempat Ibrahim bukan di padang Mina ribuan tahun lalu—tempat Ibrahim ada di setiap momen kehidupan di mana seseorang dihadapkan pada pilihan antara menggenggam dan melepaskan, antara mempertahankan ego dan menyerahkan diri, antara memilih kenyamanan dan memilih kebenaran.

Setiap hari adalah Mina. Setiap momen adalah qurban. Setiap pilihan adalah pisau yang bisa diangkat atau diturunkan. Dan setiap kali seseorang memilih untuk melepaskan—dengan ikhlas, dengan berani, dengan cinta—ia  akan menemukan bahwa yang dilepaskan tidak pernah benar-benar pergi—ia dikembalikan dalam bentuk yang lebih indah, lebih murni, dan lebih abadi. Karena beginilah hukum alam semesta yang ditetapkan oleh Yang Maha Pencipta.

“Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang seberapa banyak manusia berhasil memiliki, melainkan seberapa tulus ia mampu berbagi. Sebab harta yang disimpan hanya akan menjadi debu dan angka, sedangkan harta yang dikorbankan dengan ikhlas akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi kehidupan dunia dan akhirat. Dan di antara gema takbir Idul Adha itu, Allah sedang mengajarkan kepada manusia bahwa tangan yang memberi sesungguhnya lebih mulia daripada hati yang terus menggenggam.”

Wallahu a'lam bi al-ṣawab.

Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Bojonegoro

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Bojonegoro Klas IA

Jalan MH. Thamrin No.88
Bojonegoro,
Jawa Timur

(0353) 881235
(0353) 892229

085117437497 (WA Center)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Instagram   fb   youtube   twitter

Tautan Pengadilan

Pengadilan Agama Bojonegoro@2024