logo

Written by Super User on . Hits: 12

Selama di Tenda Mina, Nabi Muhammad Tidak Mencontohkan Shalat Sunnah Rawatib

 

 
 

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Nabi \text{Selection} ﷺ memang meninggalkan shalat sunnah rawatib selama di Mina dan Arafah pada saat Haji Wada’. Keputusan beliau ini tentu memiliki dalil dan hikmah yang mendalam.

1. Amalan yang Dikerjakan Nabi ﷺ di Mina

Hal ini bersandar pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ di Mina. Beliau shalat Dzuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dan Subuh 2 rakaat.”

1. Amalan yang Dikerjakan Nabi ﷺ di Mina

Hal ini bersandar pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ di Mina. Beliau shalat Dzuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dan Subuh 2 rakaat.”

Berdasarkan hadits tersebut, beliau menjamak dan meng-qashar shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya menjadi 2 rakaat. Shalat Maghrib tetap dikerjakan 3 rakaat karena tidak bisa di-qashar, begitu pula Subuh tetap 2 rakaat.

Catatan penting dari para sahabat: Beliau tidak melaksanakan shalat sunnah qabliyah maupun ba’diyah selama 4 hari berada di Mina dan Arafah.

2. Alasan dan Hikmah

Status sebagai Musafir

Nabi ﷺ berada di Mina dalam status sebagai musafir. Syariat Islam memberikan keringanan (rukhshah) bagi musafir untuk meringkas shalat fardhu (qashar) dan memperbolehkan mereka meninggalkan shalat sunnah rawatib agar ibadah terasa lebih ringan.

Ibnu Umar berkata:

“Aku menemani Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka tidak pernah menambah (shalat sunnah) lebih dari 2 rakaat fardhu di masa safar.”

Agenda Manasik dan Dzikir yang Padat

Waktu di Mina pada tanggal 8–13 Dzulhijjah sangatlah padat dengan rangkaian ibadah:

Malam 8 Dzulhijjah: Mabit (menginap) di Mina dan persiapan menuju Arafah.

Siang 9 Dzulhijjah: Wukuf di Arafah seharian.

Malam 10 Dzulhijjah: Mabit di Muzdalifah dan mengambil batu kerikil.

Siang 10 Dzulhijjah: Melempar Jumrah Aqabah, menyembelih kurban, bercukur (tahallul), dan Thawaf Ifadhah.

11–13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik): Melempar tiga jumrah setiap hari setelah waktu zawal (matahari tergelincir), mabit, dan memperbanyak dzikir.

Nabi ﷺ mengisi seluruh waktu tersebut dengan talbiyah, dzikir, doa, serta membimbing para sahabat mengenai tata cara manasik haji. Oleh karena itu, beliau tidak menyibukkan diri dengan shalat sunnah rawatib yang memang diberi kelonggaran untuk ditinggalkan.

3. Pengecualian: Shalat Sunnah yang Tetap Dikerjakan

Meskipun meninggalkan rawatib, Nabi ﷺ tetap konsisten mengerjakan beberapa shalat sunnah berikut:

Shalat Witir: Beliau tidak pernah meninggalkan shalat witir, baik saat mukim (di rumah) maupun saat safar (perjalanan).

Shalat Tahajjud: Beliau tetap menjaga ibadah qiyamul lail (shalat malam).

Shalat Dhuha: Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menyempatkan shalat Dhuha saat di Mina.

Shalat Sunnah Fajar: Dua rakaat sebelum Subuh ini tetap beliau jaga dengan ketat.

Jadi, yang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ hanyalah shalat sunnah rawatib 12 rakaat yang biasanya mengiringi shalat fardhu lima waktu.

4. Pelajaran untuk Jamaah Haji

Islam itu Mudah: Ketika sedang safar dan disibukkan oleh ibadah inti (seperti manasik haji), shalat sunnah rawatib boleh ditinggalkan. Jangan memaksakan diri hingga kelelahan yang justru dapat mengganggu kekhusyukan ibadah wajib.

Memprioritaskan Amalan Utama: Fokus utama di Mina adalah berdzikir, bertakbir, melempar jumrah, dan berdoa. Amalan-amalan ini lebih utama dan lebih kontekstual pada momen tersebut daripada memaksakan shalat sunnah rawatib.

Mengikuti Petunjuk Rasulullah: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan: “Ini menunjukkan bahwa safar adalah kondisi yang mendapatkan rukhshah (keringanan). Meninggalkan shalat sunnah rawatib saat safar jauh lebih utama, kecuali shalat witir dan dua rakaat fajar (Subuh).”

Sumber : https://suarabojonegoro.com/selama-di-tenda-mina-nabi-muhammad-tidak-mencontohkan-shalat-sunnah-rawatib/

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Bojonegoro Klas IA

Jalan MH. Thamrin No.88
Bojonegoro,
Jawa Timur

(0353) 881235
(0353) 892229

085117437497 (WA Center)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Instagram   fb   youtube   twitter

Tautan Pengadilan

Pengadilan Agama Bojonegoro@2024