(0353) 881235 pabojonegoro@gmail.com delegasi.pabojonegoro@gmail.com
Memuat jam...

 
 

Oleh: Sholikin Jamik*)

TAHALUL itu titik balik dalam ibadah haji dan umrah. Setelah tahalul, status “ihram” yang bikin banyak hal haram jadi halal lagi.

1. Arti bahasa & istilah

Tahalul = ????, artinya “lepas”, “halal”, “bebas”.
Lawan katanya _ihram_ = mengharamkan diri dari hal-hal tertentu.

Jadi tahalul = melepaskan diri dari larangan ihram, kembali ke keadaan normal.

2. Ada 2 jenis tahalul

a. Tahalul Awal / Tahalul Ashghar
Terjadi kalau kamu sudah melakukan 2 dari 3 amalan ini pada 10 Dzulhijjah:
1. Lempar Jumrah Aqabah
2. Cukur/gundul rambut
3. Tawaf Ifadhah

Setelah tahalul awal, yang halal kembali adalah:
– Pakai baju biasa, wangi-wangian, potong kuku
– Hubungan suami istri *masih haram*

Makanya disebut _ashghar_ = kecil. Masih ada yang belum halal.

b. Tahalul Tsani / Tahalul Akbar
Terjadi kalau ketiga amalan di atas sudah selesai: lempar jumrah, cukur, tawaf ifadhah.

Setelah tahalul tsani, semua larangan ihram hilang total. Termasuk hubungan suami istri. Ini disebut akbar= besar, karena benar-benar kembali seperti sebelum ihram.

Urutannya yang paling afdhal sesuai sunnah Nabi ? di 10 Dzulhijjah:
Lempar jumrah ? Sembelih kurban ? Cukur ? Tawaf Ifadhah ? Sa’i

3. Makna tahalul yang lebih dalam

Tahalul bukan cuma soal lepas baju ihram. Ada 3 makna besar:

a. Lulus ujian ketaatan
Selama ihram kamu dilarang banyak hal yang tadinya halal: wangi, jima’, buru hewan.
Tahalul datang setelah kamu lulus ujian menahan diri.
Artinya: Allah kasih “hadiah” berupa kehalalan lagi karena kamu taat.
Hidup juga gitu, nikmat yang halal itu lebih nikmat kalau didapat setelah sabar dan taat.

b. Simbol lahir kembali
Cukur rambut saat tahalul simbol “membuang” dosa dan memulai lembaran baru.
Nabi ? mendoakan: _“Ya Allah ampunilah orang yang menggundul, ya Allah ampunilah orang yang menggundul.”_ diulang 3x.
Rambut rontok = dosa rontok, insyaAllah.

c. Kembali ke dunia dengan aturan baru
Tahalul bukan berarti bebas sebebasnya. Kamu halal pakai wangi, tapi nggak boleh sombong.
Halal hubungan suami istri, tapi tetap ada adabnya.
Maknanya: ibadah itu ngubah kamu, bukan cuma ngubah status. Keluar dari haji harusnya jadi orang yang lebih terkontrol nafsunya.

4. Kesalahan paham tentang tahalul

1. Kira tahalul selesai haji. Belum. Kalau belum tawaf ifadhah, masih ada kewajiban. Pulang ke negara asal sebelum tawaf = haji nggak sah.
2. Asal cukur sedikit aja*l. Untuk laki-laki, sunnahnya gundul. Untuk perempuan, potong ujung rambut sepanjang ujung jari.
3. Langsung halal semua setelah cukur. Ingat, kalau belum tawaf ifadhah, jima’ masih haram.

Singkatnya:
Tahalul maknanya “dibebaskan” dari larangan ihram karena sudah taat.
Maknanya: kamu lulus ujian, dosa rontok, dan kembali ke dunia dengan hati yang lebih terkontrol.

Tahalul itu bukan akhir, tapi awal. Awal jadi manusia yang lebih taqwa setelah haji.

Sumber : https://kabarpasti.com/tahalul-simbol-lahir-kembali-titik-balik-haji-dan-umroh/

Selama di Tenda Mina, Nabi Muhammad Tidak Mencontohkan Shalat Sunnah Rawatib

 

 
 

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Nabi \text{Selection} ? memang meninggalkan shalat sunnah rawatib selama di Mina dan Arafah pada saat Haji Wada’. Keputusan beliau ini tentu memiliki dalil dan hikmah yang mendalam.

1. Amalan yang Dikerjakan Nabi ? di Mina

Hal ini bersandar pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ? di Mina. Beliau shalat Dzuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dan Subuh 2 rakaat.”

1. Amalan yang Dikerjakan Nabi ? di Mina

Hal ini bersandar pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ? di Mina. Beliau shalat Dzuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dan Subuh 2 rakaat.”

Berdasarkan hadits tersebut, beliau menjamak dan meng-qashar shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya menjadi 2 rakaat. Shalat Maghrib tetap dikerjakan 3 rakaat karena tidak bisa di-qashar, begitu pula Subuh tetap 2 rakaat.

Catatan penting dari para sahabat: Beliau tidak melaksanakan shalat sunnah qabliyah maupun ba’diyah selama 4 hari berada di Mina dan Arafah.

2. Alasan dan Hikmah

Status sebagai Musafir

Nabi ? berada di Mina dalam status sebagai musafir. Syariat Islam memberikan keringanan (rukhshah) bagi musafir untuk meringkas shalat fardhu (qashar) dan memperbolehkan mereka meninggalkan shalat sunnah rawatib agar ibadah terasa lebih ringan.

Ibnu Umar berkata:

“Aku menemani Nabi ?, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka tidak pernah menambah (shalat sunnah) lebih dari 2 rakaat fardhu di masa safar.”

Agenda Manasik dan Dzikir yang Padat

Waktu di Mina pada tanggal 8–13 Dzulhijjah sangatlah padat dengan rangkaian ibadah:

Malam 8 Dzulhijjah: Mabit (menginap) di Mina dan persiapan menuju Arafah.

Siang 9 Dzulhijjah: Wukuf di Arafah seharian.

Malam 10 Dzulhijjah: Mabit di Muzdalifah dan mengambil batu kerikil.

Siang 10 Dzulhijjah: Melempar Jumrah Aqabah, menyembelih kurban, bercukur (tahallul), dan Thawaf Ifadhah.

11–13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik): Melempar tiga jumrah setiap hari setelah waktu zawal (matahari tergelincir), mabit, dan memperbanyak dzikir.

Nabi ? mengisi seluruh waktu tersebut dengan talbiyah, dzikir, doa, serta membimbing para sahabat mengenai tata cara manasik haji. Oleh karena itu, beliau tidak menyibukkan diri dengan shalat sunnah rawatib yang memang diberi kelonggaran untuk ditinggalkan.

3. Pengecualian: Shalat Sunnah yang Tetap Dikerjakan

Meskipun meninggalkan rawatib, Nabi ? tetap konsisten mengerjakan beberapa shalat sunnah berikut:

Shalat Witir: Beliau tidak pernah meninggalkan shalat witir, baik saat mukim (di rumah) maupun saat safar (perjalanan).

Shalat Tahajjud: Beliau tetap menjaga ibadah qiyamul lail (shalat malam).

Shalat Dhuha: Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menyempatkan shalat Dhuha saat di Mina.

Shalat Sunnah Fajar: Dua rakaat sebelum Subuh ini tetap beliau jaga dengan ketat.

Jadi, yang ditinggalkan oleh Nabi ? hanyalah shalat sunnah rawatib 12 rakaat yang biasanya mengiringi shalat fardhu lima waktu.

4. Pelajaran untuk Jamaah Haji

Islam itu Mudah: Ketika sedang safar dan disibukkan oleh ibadah inti (seperti manasik haji), shalat sunnah rawatib boleh ditinggalkan. Jangan memaksakan diri hingga kelelahan yang justru dapat mengganggu kekhusyukan ibadah wajib.

Memprioritaskan Amalan Utama: Fokus utama di Mina adalah berdzikir, bertakbir, melempar jumrah, dan berdoa. Amalan-amalan ini lebih utama dan lebih kontekstual pada momen tersebut daripada memaksakan shalat sunnah rawatib.

Mengikuti Petunjuk Rasulullah: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan: “Ini menunjukkan bahwa safar adalah kondisi yang mendapatkan rukhshah (keringanan). Meninggalkan shalat sunnah rawatib saat safar jauh lebih utama, kecuali shalat witir dan dua rakaat fajar (Subuh).”

Sumber : https://suarabojonegoro.com/selama-di-tenda-mina-nabi-muhammad-tidak-mencontohkan-shalat-sunnah-rawatib/

Tata cara salat 5 waktu saat di Mina tanggal 10-12 Zulhijah Sesuai Sunnah Rasulullah saw.

Tata cara salat 5 waktu saat di Mina tanggal 10-12 Zulhijah Sesuai Sunnah Rasulullah saw.

Tanggal 10-12 Zulhijah itu merupakan Hari Tasyrik. Nabi saw. melakukan mabit di Mina dan salatnya ada keringanan khusus, yaitu salat dilakukan secara qashar, tanpa jamak.

Ketentuan umum salat di Mina 11-12 Zulhijah

Pada tanggal 10 Zulhijah salat Subuh di Muzdalifah, pada siang harinya sudah harus di Mina untuk melempar Jumrah Aqabah, kurban, dan cukur rambut. Setelah itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya sudah berada di Mina.

Pada tanggal 11-12 Zulhijah jemaah mabit di Mina, melempar 3 jumrah setelah zawal, dan semua salat dikerjakan di Mina.

Hukum melakukan ibadah salat pada momen tersebut. Pertama, Qashar dengan melakukan salat 4 rakaat menjadi 2 rakaat untuk salat Zuhur, Asar, Isya. Kedua, tidak dilakukan jamak, yaitu salat Magrib dan Isya tidak digabung. Masing-masing ditunaikan pada waktunya. Ketiga, salat Magrib dan Subuh tetap utuh berjumlah tiga dan dua rakaat.

Aturan tersebut sesuai dengan hadis Jabir bin Abdillah: "Nabi saw. salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh di Mina. Beliau melakukan qashar salat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat". [H.R. Muslim 1218]

Tata cara pelaksanaan

Salat Subuh 2 rakaat di awal waktu dengan jahar. Salat Zuhur 2 rakaat setelah zawal qashar dengan sirr. Salat Asar 2 rakaat di awal waktu qashar dengan sirr. Salat Magrib tiga rakaat di awal waktu secara utuh, dan jahar 2 rakaat pertama. Salat Isya 2 rakaat di awal waktu dengan cara qashar dan jahar di 2 rakaat pertama.

Contoh tata cara pelaksanaan pada tanggal 11 Zulhijah.

Pertama, Masuk waktu Zuhur, azan lalu iqamah, kemudian tunaikan salat Zuhur 2 rakaat. Kedua, masuk waktu Asar, azan lalu iqamah, lakukan salat Asar dua rakaat. Ketiga, masuk waktu Magrib lakukan salat Magrib tiga rakaat. Keempat, masuk waktu Isya lalu tunaikan salat Isya 2 rakaat.

Nabi saw. tidak menjamak Maghrib-Isya di Mina. Berbeda dengan di Arafah dan Muzdalifah.

https://storage.pojokaplikasi.com/files/lenteramu-or-id/1761627390481-646270367.png"); background-size: cover; background-position: center center; background-repeat: no-repeat;">
 

Tata cara salatnya tetap ikut sunnah Nabi saw. Gerakannya sama seperti salat biasa:

1. Takbiratul ihram, tangan di dada

2. Baca Al-Fatihah + surat pendek di 2 rakaat pertama

3. Ruku’, sujud, duduk thuma’ninah

4. Tasyahhud akhir, salam

Pelaksanaan ibadah salat selama.momen ini hanya berbeda jumlah rakaat untuk Zuhur, Asar, Isya menjadi 2 rakaat. Bacaannya tetap jahar untuk Magrib & Isya, sirr untuk Zuhur dan Asar.

Bagaimana kalau salat berjamaah dengan imam mukim? Kalau imamnya penduduk Makkah atau Mina yang mukim, mereka salat 4 rakaat.

Kalau posisi jemaah sebagai musafir, maka niat mengikuti imam, saat imam berdiri rakaat 3-4 rakaat, kamu duduk tasyahhud akhir lalu salam sendiri setelah imam salam atau tunggu imam salam, baru salam. Akan tetapi biasanya di Mina semua imamnya juga musafir, jadi salatnya 2 rakaat.

Hikmah tata cara ibadah selama prosesi haji ini adalah Nabi saw. tidak menjamak di Mina biar waktunya longgar untuk istirahat setelah lempar jumrah, zikir, takbir, doa, serta minum, ngobrol sesama jemaah.

Hari Tasyrik itu hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah [QS. Al-Baqarah: 203].

Intinya tanggal 10-12 Zulhijah di Mina lakukan salat empat rakaat menjadi dua rakaat. Magrib dan Subuh tetap jumlah rakaatnya dan tidak dijamak. Semua dilakukan pada waktunya.

Oleh: Sholikin Jamik

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/tata-cara-salat-5-waktu-saat-di-mina-tanggal-10-12-zulhijah-sesuai-sunnah-rasulullah-saw/

Tahalul Itu Simbol Lahir Kembali

 

Tahalul Itu Simbol Lahir Kembali

Tahalul itu titik balik dalam ibadah haji dan umrah. Setelah tahalul, status “ihram” yang bikin banyak hal haram jadi halal lagi.

Tahalul secara bahasa berasal dari kata ????, artinya “lepas”, “halal”, “bebas”. Lawan katanya ihram atau mengharamkan diri dari hal-hal tertentu.

Jadi tahalul adalah melepaskan diri dari larangan ihram, kembali ke keadaan normal.

Ada dua jenis tahalul.

Pertama, Tahalul Awal atau Tahalul Ashghar. Terjadi kalau kamu sudah melakukan 2 dari 3 amalan ini pada 10 Zulhijah: melempar Jumrah Aqabah, mencukur/gundul rambut, Tawaf Ifadah.

Setelah tahalul awal, yang halal kembali adalah memakai baju biasa, wangi-wangian, potong kuku, hubungan suami istri masih haram. Makanya disebut ashghar atau kecil. Masih ada yang belum halal.

Kedua, Tahalul Tsani atau Tahalul Akbar. Terjadi kalau ketiga amalan di atas sudah selesai: melempar jumrah, mencukur rambut, dan tawaf ifadah.

Setelah Tahalul Tsani, semua larangan ihram hilang total. Termasuk hubungan suami istri. Eh sebab itu disebut akbar atau besar, karena benar-benar kembali seperti sebelum ihram.

Urutannya yang paling afdhl sesuai sunnah Nabi saw. di 10 Zulhijah yaitu melempar jumrah, menyembelih kurban, mencukur rambut, Tawaf Ifadah, dan Sa’i.

Makna tahalul yang lebih dalam, bahwa tahalul bukan cuma soal lepas baju ihram. Ada 3 makna besar:

https://storage.pojokaplikasi.com/files/lenteramu-or-id/1761627390481-646270367.png"); background-size: cover; background-position: center center; background-repeat: no-repeat;">
 

(1) Lulus ujian ketaatan. Selama ihram kamu dilarang banyak hal yang tadinya halal: wangi, jima’, buru hewan. Tahalul datang setelah kamu lulus ujian menahan diri. Artinya: Allah kasih “hadiah” berupa kehalalan lagi karena kamu taat. Hidup juga begitu, nikmat yang halal itu lebih nikmat kalau didapat setelah sabar dan taat.

(2) Simbol lahir kembali. Mencukur rambut saat tahalul simbol “membuang” dosa dan memulai lembaran baru. Nabi saw. mendoakan: “Ya Allah ampunilah orang yang menggundul, ya Allah ampunilah orang yang menggundul.” doa ini dibaca dengan diulang sebanyak tiga kali. Rambut rontok artinya dosa rontok, insyaAllah.

(3) Kembali ke dunia dengan aturan baru. Tahalul bukan berarti bebas sebebasnya. Kamu halal pakai wangi, tetapi tidak boleh sombong. Halal hubungan suami istri, tetapi tetap ada adabnya. Maknanya: ibadah itu mengubah diri, bukan cuma mengubah status. Keluar dari haji harusnya jadi orang yang lebih terkontrol nafsunya.

Kesalahpahaman tentang Tahalul

(1) Orang mengira selesai tahalul selesai haji. Belum. Kalau belum Tawaf Ifadah, masih ada kewajiban. Pulang ke negara asal sebelum tawaf maka haji nggak sah.

(2) Asal cukur sedikit aja. Untuk laki-laki, sunnahnya gundul. Untuk perempuan, potong ujung rambut sepanjang ujung jari.

(3) Langsung halal semua setelah cukur rambut. Ingat, kalau belum tawaf ifadah, jima’ masih haram.

Singkatnya: Tahalul maknanya “dibebaskan” dari larangan ihram karena sudah taat. Maknanya: kamu lulus ujian, dosa rontok, dan kembali ke dunia dengan hati yang lebih terkontrol.

Tahalul itu bukan akhir, tapi awal. Awal jadi manusia yang lebih takwa setelah haji.

Oleh: Sholikin Jamik

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/tahalul-itu-simbol-lahir-kembali/

Tahalul Simbol Lahir Kembali, Titik Balik Haji dan Umroh

 
 

Oleh: Sholikin Jamik*)

TAHALUL itu titik balik dalam ibadah haji dan umrah. Setelah tahalul, status “ihram” yang bikin banyak hal haram jadi halal lagi.

1. Arti bahasa & istilah

Tahalul = ????, artinya “lepas”, “halal”, “bebas”.
Lawan katanya _ihram_ = mengharamkan diri dari hal-hal tertentu.

Jadi tahalul = melepaskan diri dari larangan ihram, kembali ke keadaan normal.

2. Ada 2 jenis tahalul

a. Tahalul Awal / Tahalul Ashghar
Terjadi kalau kamu sudah melakukan 2 dari 3 amalan ini pada 10 Dzulhijjah:
1. Lempar Jumrah Aqabah
2. Cukur/gundul rambut
3. Tawaf Ifadhah

Setelah tahalul awal, yang halal kembali adalah:
– Pakai baju biasa, wangi-wangian, potong kuku
– Hubungan suami istri *masih haram*

Makanya disebut _ashghar_ = kecil. Masih ada yang belum halal.

b. Tahalul Tsani / Tahalul Akbar
Terjadi kalau ketiga amalan di atas sudah selesai: lempar jumrah, cukur, tawaf ifadhah.

Setelah tahalul tsani, semua larangan ihram hilang total. Termasuk hubungan suami istri. Ini disebut akbar= besar, karena benar-benar kembali seperti sebelum ihram.

Urutannya yang paling afdhal sesuai sunnah Nabi ? di 10 Dzulhijjah:
Lempar jumrah ? Sembelih kurban ? Cukur ? Tawaf Ifadhah ? Sa’i

3. Makna tahalul yang lebih dalam

Tahalul bukan cuma soal lepas baju ihram. Ada 3 makna besar:

a. Lulus ujian ketaatan
Selama ihram kamu dilarang banyak hal yang tadinya halal: wangi, jima’, buru hewan.
Tahalul datang setelah kamu lulus ujian menahan diri.
Artinya: Allah kasih “hadiah” berupa kehalalan lagi karena kamu taat.
Hidup juga gitu, nikmat yang halal itu lebih nikmat kalau didapat setelah sabar dan taat.

b. Simbol lahir kembali
Cukur rambut saat tahalul simbol “membuang” dosa dan memulai lembaran baru.
Nabi ? mendoakan: _“Ya Allah ampunilah orang yang menggundul, ya Allah ampunilah orang yang menggundul.”_ diulang 3x.
Rambut rontok = dosa rontok, insyaAllah.

c. Kembali ke dunia dengan aturan baru
Tahalul bukan berarti bebas sebebasnya. Kamu halal pakai wangi, tapi nggak boleh sombong.
Halal hubungan suami istri, tapi tetap ada adabnya.
Maknanya: ibadah itu ngubah kamu, bukan cuma ngubah status. Keluar dari haji harusnya jadi orang yang lebih terkontrol nafsunya.

4. Kesalahan paham tentang tahalul

1. Kira tahalul selesai haji. Belum. Kalau belum tawaf ifadhah, masih ada kewajiban. Pulang ke negara asal sebelum tawaf = haji nggak sah.
2. Asal cukur sedikit aja*l. Untuk laki-laki, sunnahnya gundul. Untuk perempuan, potong ujung rambut sepanjang ujung jari.
3. Langsung halal semua setelah cukur. Ingat, kalau belum tawaf ifadhah, jima’ masih haram.

Singkatnya:
Tahalul maknanya “dibebaskan” dari larangan ihram karena sudah taat.
Maknanya: kamu lulus ujian, dosa rontok, dan kembali ke dunia dengan hati yang lebih terkontrol.

Tahalul itu bukan akhir, tapi awal. Awal jadi manusia yang lebih taqwa setelah haji.

Sumber : https://kabarpasti.com/tahalul-simbol-lahir-kembali-titik-balik-haji-dan-umroh/

Makna Lempar Jumroh Tanggal 10 Dzulhijah

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/kmc_20260527_120625-768x1024.png 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/kmc_20260527_120625-1152x1536.png 1152w" sizes="(max-width: 1440px) 100vw, 1440px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah itu ritual simbolik yang maknanya dalam banget.

Hari itu namanya Hari Nahr, dan lempar jumrah jadi amalan pertama yang dilakukan jamaah haji setelah turun dari Muzdalifah.

1. Asal usulnya: Kisah Nabi Ibrahim vs Setan

Ini inti maknanya. Lempar jumrah meniru kejadian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

Saat Ibrahim diperintah Allah menyembelih Ismail, setan datang 3 kali untuk menggoda beliau agar membatalkan perintah itu.

– Pertama di Jumrah Ula
– Kedua di Jumrah Wustha
– Ketiga di Jumrah Aqabah

Setiap kali setan muncul, Jibril bilang ke Ibrahim: “Lempar dia!
Ibrahim pun melempar setan dengan 7 batu kecil, dan setan lari.

Jadi lempar jumrah tanggal 10 Dzulhijjah itu meniru aksi Nabi Ibrahim yang menolak godaan setan dengan tegas.

2. Makna simboliknya

Lempar jumrah bukan main lempar batu ke tiang. Ada 3 makna utama:

a. Pernyataan perang terhadap setan dan hawa nafsu
Batu yang kamu lempar itu simbol penolakan.
Setiap lemparan = “Aku menolak bisikanmu, aku taat pada Allah”
Setan itu musuh nyata, dan cara melawannya adalah dengan taat, bukan debat.

b. Praktik ketundukan tanpa banyak tanya
Nabi Ibrahim nggak nanya “kenapa harus sembelih anakku?”. Beliau langsung taat.
Lempar jumrah ngajarin kita: ada perintah Allah yang kita jalankan meski akal belum sepenuhnya paham hikmahnya.
Itu namanya ubudiyah murni.

c. Pembuka untuk taubat dan pembersihan diri
Setelah lempar jumrah Aqabah, kamu cukur rambut dan tahalul awal.
Artinya: setelah “mengusir setan”, kamu masuk ke fase pembersihan diri dan kembali suci.
Makanya urutannya: lempar ? sembelih ? cukur ? tahalul.

3. Tata caranya yang disyariatkan

Tanggal 10 Dzulhijjah cuma lempar 1 jumrah, yaitu Jumrah Aqabah yang paling besar dan paling dekat ke Mekah.

Waktu: Setelah matahari terbit sampai sebelum maghrib. Yang paling afdhal setelah matahari agak tinggi.
– Jumlah batu: 7 butir, seukuran kacang hijau.
Cara: Berdiri menghadap jumrah, takbir tiap lemparan “Allahu Akbar”.
– Niat: Nggak perlu dilafalkan. Cukup dalam hati mengikuti perintah Allah.

Setelah itu baru sembelih kurban, cukur rambut, tawaf ifadhah.

4. Makna untuk hidup sehari-hari

Lempar jumrah itu latihan praktis:

1. Setiap hari kita digoda setan lewat malas sholat, ghibah, riba, marah. Lempar jumrah ngajarin: lawan langsung, jangan dituruti.
2. Setan nggak mati, makanya ada 3 jumrah yang dilempar 3 hari berturut-turut. Godaan datang berulang, jadi perlawanan juga harus konsisten.
3. Batu kecil bisa ngusir setan besar kalau dilakukan dengan niat dan taat. Amal kecil yang ikhlas lebih berat dari amal besar yang riya.

Ibnu Qayyim bilang: “Lempar jumrah itu menegakkan syiar tauhid, menghinakan setan, dan menampakkan sikap bermusuhan dengannya”.

5. Kalau nggak bisa lempar sendiri?

Kalau sakit, tua, atau ramai banget, boleh diwakilkan.
Tapi yang afdhal tetap lempar sendiri karena itu bagian dari latihan melawan hawa nafsu.

Singkatnya:
Lempar jumrah 10 Dzulhijjah = deklarasi “Aku di pihak Allah, bukan setan”.
Itu warisan Nabi Ibrahim, latihan taat tanpa debat, dan pembuka untuk tahalul.
Bukan batu yang ngena ke setan, tapi ketaatanmu yang bikin setan kalah.

Sumber : https://upwarta.com/makna-lempar-jumroh-tanggal-10-dzulhijah/

Arti Nafar Awal dan Nafar Tsani

 

Arti Nafar Awal dan Nafar Tsani

Ada pertanyaan dari jemaah haji: "Bagaimana kedudukan Nafar Awal dan Nafar Tsani? Apakah itu pilihan, boleh dikerjakan salah satu atau harus dikerjakan keduanya?

Jawabannya: Nafar awal dan Nafar Tsani itu istilah untuk waktu pulang dari Mina setelah selesai lempar jumrah di hari Tasyrik.

Dua-duanya ada di dalam Surah Al-Baqarah ayat 203: "Barangsiapa yang ingin cepat berangkat [dari Mina] sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan, maka tidak ada dosa pula baginya...[kepulangannya]".

Nafar Awal berarti pulang lebih awal dari Mina. Waktunya setelah melempar jumrah pada tanggal 12 Zulhijah sebelum Magrib.

Jadi kalau kamu pilih Nafar Awal, maka pada tanggal 11 Zulhijah melempar tiga jumrah setelah zawal. Pada tanggal 12 Zulhijah melempar 3 jumrah lagi setelah zawal. Setelah itu langsung keluar dari Mina sebelum matahari terbenam

Kalau lewat Magrib masih di Mina, maka gugur opsi Nafar Awal. Otomatis jadi Nafar Tsani.

Hikmahnya, khusunya bagi jemaah yang lemah, tua, sakit, atau khawatir desak-desakan. Nabi saw. membolehkan.

Nafar Tsani berarti pulang belakangan dari Mina. Waktunya Setelah lempar jumrah tanggal 13 Zulhijah.

Jadi kalau pilih Nafar Tsani, tanggal 11 Zulhijah melempar 3 jumrah, tanggal 2 Zulhijah mempar 3 jumrah,.tanggal 13 Zulhijah melempar 3 jumrah lagi setelah zawal, baru keluar dari Mina.

Ini yang lebih utama dan lebih sesuai sunnah Nabi saw. Beliau mabit di Mina sampai tanggal 13 Zulhijah.

https://storage.pojokaplikasi.com/files/lenteramu-or-id/1761627390481-646270367.png"); background-size: cover; background-position: center center; background-repeat: no-repeat;">
 

Hikmahnya yaitu dapat memeroleh lebih banyak pahala mabit, dzikir, dan doa di Mina. Tanggal 13 Zulhijah masih termasuk Hari Tasyrik yang diperintah untuk banyak berzikir.

Perbedaan Praktis Nafar Awal dan Nafar Tsani

Nafar Awal: (1) keluar Mina tanggal 12 Zulhijah, (2) Mele.par Jumrah tiga hari tanggal 10, 11, 12 Zulhijah, (3) hukumnya mubah/beh, (4) cocok jemaah tua, sakit, rombongan besar dan takut macet.

Nafar Tsani: (1) keluar Mina sebelum Magrib 13 Zulhijah setelah zawal, (2) melempar jumrah empat hari di tanggal 10, 11, 12, 13 Zulhijah, (3) hukumnya lebih utama atau sunnah, (4) cocok untuk jemaah yang kuat dan ingin maksimalkan pahala.

Namun perlu diingat, tidak ada dosa mau pilih Nafar Awal atau Nafar Tsani. Keduanya sah.

Syarat Nafar Awal adalah harus sudah keluar dari batas Mina sebelum Magrib 12 Zulhijah. Kalau kemacetan bikin telat, maka wajib menginap dan melempar.jumrah lagi tanggal 13 Zulhijah.

Tanggal 13 Zulhijah tetap ada melempar jumrah. Banyak orang salah kira tanggal 13 Zulhijah cuma istirahat.

Singkatnya Nafar Awal itu pulang cepat tanggal 12 Zulhijah. Nafar Tsani itu pulang lambat tanggal 13 Zulhijah.

Nabi saw. memilih Nafar Tsani. Tetapi kalau kondisi tidak memungkinkan, Nafar Awal juga dapat pahala insyaAllah. Jemaah harus memilih salah satunya, tidak mungkin dilakukan dua-duanya.

Oleh: Sholikhin Jamik

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/arti-nafar-awal-dan-nafar-tsani/

Makna Kisah Nabi Ibrahim & Ismail di Jumrah ula, wusta dan Aqabah di tanggal 11,12, dan 13 dzulhijah ( hari tasryik)

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260523_002711-768x427.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260523_002711-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1279px) 100vw, 1279px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Kisah ini jadi asal usul melempar jumrah saat haji. Peristiwanya terjadi saat Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Di tengah perjalanan itu, setan 3 kali mencoba menggoda Ibrahim supaya membatalkan perintah Allah.

1. Di Jumrah Ula – yang paling jauh dari Mekah

Saat Ibrahim, Ismail, dan Hajar berangkat dari Mina menuju tempat penyembelihan di Mina, setan muncul pertama kali di tempat yang sekarang disebut Jumrah Ula.

Setan membisik ke Ibrahim: “Ini cuma mimpi, jangan bunuh anakmu. Sayang, dia anak tunggalmu yang sudah tua baru dapat.”

Nabi Ibrahim sadar itu godaan setan. Dia mengambil 7 batu kecil dan melemparnya ke setan itu sambil mengucapkan “Allahu Akbar”. Setan pun lari.

Makna: Tolak was-was dan bisikan yang menjauhkanmu dari perintah Allah. Jangan dituruti, lawan dengan tegas.

2. Di Jumrah Wusta – yang di tengah
Setan tidak menyerah.

Dia muncul lagi di tempat yang sekarang disebut Jumrah Wusta saat Ibrahim jalan menuju tempat penyembelihan.

Kali ini setan membisik ke Siti Hajar: “Suamimu mau menyembelih anakmu. Cegah dia!”

Lalu ke Ismail: “Bapakmu mau bunuh kamu, jangan mau!”

Hajar dan Ismail juga sadar itu setan. Ibrahim kembali melempar 7 batu ke tempat itu. Setan lari lagi.

Makna: Godaan sering datang lewat orang terdekat dan emosi. Tapi kalau kita yakin itu perintah Allah, tetap taat. Hajar dan Ismail justru menguatkan Ibrahim.

3. Di Jumrah Aqabah – yang paling dekat dengan Mekah

Setan muncul untuk ketiga kalinya di Jumrah Aqabah, tempat terdekat dengan Mekah. Dia membisik lagi ke Ibrahim supaya ragu dan membatalkan perintah Allah.

Ibrahim kembali melempar 7 batu ke jumrah itu. Setelah itu setan tidak muncul lagi.

Makna: Godaan terakhir biasanya paling berat, karena datang saat kita hampir sampai. Tapi kalau kita istiqamah sampai akhir, Allah akan beri jalan keluar.

Setelah lemparan itu

Setelah dilempar, setan putus asa dan pergi. Ibrahim sampai ke tempat penyembelihan di Mina. Saat pisau diletakkan di leher Ismail, Allah gantikan Ismail dengan seekor domba besar dari surga.

Allah berfirman:
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [QS. As-Saffat: 107]

Peristiwa itu yang kita peringati saat Idul Adha dan saat melempar jumrah saat haji.

Hikmah untuk kita sekarang

Melempar jumrah bukan menyakiti setan secara fisik. Batu itu simbol:

1. Penolakan terhadap hawa nafsu dan bisikan setan – 3 jumrah = 3 level godaan: godaan ke diri sendiri, keluarga, dan saat hampir berhasil.
2. Ikut sunnah Nabi Ibrahim – kita ikut jejaknya dalam ketaatan total ke Allah.
3. Pengakuan kelemahan diri – kita lempar batu karena kita butuh Allah untuk melawan setan. Sendiri kita lemah.

Makanya saat lempar jumrah disunnahkan baca “Bismillah, Allahu Akbar”. Bukan marah-marah ke batu.

Jadi Jumrah Ula, Wusta, Aqabah itu jejak perjuangan Ibrahim, Hajar, dan Ismail melawan godaan setan sebelum ujian terbesar penyembelihan terjadi.

Sumber : https://upwarta.com/makna-kisah-nabi-ibrahim-ismail-di-jumrah-ula-wusta-dan-aqabah-di-tanggal-1112-dan-13-dzulhijah-hari-tasryik/

Makna Mabit di Musdzalifah

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-400x225.jpg 400w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-768x432.jpg 768w, https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260527_120341-250x140.jpg 250w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh Sholikin Jamik

Mabit di Muzdalifah = bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah, setelah wukuf di Arafah dan sebelum lempar Jumrah Aqabah.

Itu wajib haji, bukan cuma istirahat biasa. Ada makna ibadah dan simbolik yang dalam di dalamnya.

1. Makna secara hukum dan praktik

Waktu: Setelah Maghrib dan Isya tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah berangkat dari Arafah ke Muzdalifah.
Amalan: Jamaah jama’ dan qashar Maghrib-Isya, lalu mabit sampai lewat tengah malam.
Minimal mabit = lewat tengah malam sampai sebelum fajar.
Nabi ? mabit sampai subuh, baru sholat Subuh di awal waktu, lalu berangkat ke Mina.

Tujuannya: Mengambil batu untuk lempar jumrah dan mempersiapkan diri fisik-mental untuk hari Nahr.

2. Makna spiritual mabit di Muzdalifah

a. Simbol kerendahan dan persamaan manusia
Muzdalifah itu tanah lapang tanpa tenda mewah. Semua tidur di tanah, beralaskan langit.
Kaya, miskin, pejabat, rakyat biasa tidur berdampingan.
Maknanya: di hadapan Allah semua sama. Yang membedakan cuma takwa.

b. Istirahat setelah ujian berat
Sebelum Muzdalifah ada wukuf di Arafah seharian, berdiri, doa, panas, capek.
Muzdalifah adalah jeda. Allah kasih waktu istirahat fisik tapi hati tetap hidup dengan dzikir dan doa.
Maknanya: setelah berjuang, Allah beri ketenangan. Tapi jangan lupa dzikir.
Allah berfirman: _”Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram”_ [QS. Al-Baqarah: 198]

c. Persiapan untuk perang melawan setan
Di Muzdalifah jamaah mengambil 7 batu kecil untuk lempar Jumrah Aqabah.
Batu = simbol melawan hawa nafsu dan godaan setan.
Malam di Muzdalifah adalah malam mempersiapkan diri secara mental untuk “perang” itu.

d. Menghidupkan sunnah dan mengikuti Nabi
Nabi ? mabit di Muzdalifah dan memerintahkan sahabat untuk melakukannya.
Ibnu Umar bilang: “Nabi ? sholat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqamat, lalu beliau tidur sampai subuh”.

Meninggalkan mabit tanpa udzur = wajib bayar dam.

3. Yang dilakukan saat mabit

Nggak ada ritual khusus yang ribet. Yang dianjurkan:

1. Sholat Maghrib dan Isya jamak qashar begitu sampai.
2. Tidur untuk istirahat supaya kuat untuk ibadah besok.
3. Bangun malam untuk dzikir, doa, istighfar. Ini waktu mustajab.
4. Sholat Subuh di awal waktu, lalu wukuf kecil di Masy’aril Haram sebelum berangkat ke Mina.
5. Mengambil batu untuk lempar jumrah, boleh juga ambil di Mina.

4. Bedanya dengan mabit di Mina
Muzdalifah Mina
1 malam saja, malam 10 Dzulhijjah 2-3 malam, 11-13 Dzulhijjah
Wajib untuk mayoritas ulama Wajib untuk mayoritas ulama
Fokus: istirahat, dzikir, ambil batu Fokus: lempar jumrah, dzikir, takbir
Tanah terbuka, tanpa tenda khusus Ada tenda, lebih ramai

Singkatnya:
Mabit di Muzdalifah itu malam peralihan. Malam turunnya derajat dari kemuliaan wukuf, ke kesiapan menghadapi ujian lempar jumrah.

Malam untuk merendahkan diri, tidur di tanah, ingat bahwa kita semua sama di hadapan Allah, dan mengisi waktu dengan dzikir karena besok adalah hari paling besar: Hari Nahr.

Mabit ini ngajarin: ibadah itu ada capeknya, ada tenangnya, ada persiapannya. Semua diatur Allah biar hati nggak kosong.

Sumber : https://upwarta.com/makna-mabit-di-musdzalifah/

Wakil Kementerian Haji dan Umrah Menyambangi Jamaah Haji Bojonegoro di Makkah, Titip Pesan untuk Menjaga Fisik dan Meluruskan Niat Ibadah

Wakil Kementerian Haji dan Umrah Menyambangi Jamaah Haji Bojonegoro di Makkah, Titip Pesan untuk Menjaga Fisik dan Meluruskan Niat Ibadah

MAKKAH – Wakil Kementerian Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E., melakukan kunjungan langsung ke Hotel Royal Makkah, tempat menginap jemaah haji asal Kabupaten Bojonegoro yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Masyarakat Madani, Kamis (21/5/2026).

Kunjungan penuh kehangatan tersebut menjadi perhatian para jemaah. Selain sebagai bentuk perhatian kepada tamu Allah dari Indonesia, kunjungan ini juga dilandasi hubungan baik dengan jemaah Bojonegoro, terlebih salah satu ajudan beliau, Asril, diketahui merupakan putra asli Bojonegoro.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, Mas Dahnil menyampaikan dua pesan penting kepada seluruh jemaah yang tengah mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), pada 25 Mei 2026 hingga 27 Mei 2026.

Pesan pertama yang ditekankan Dahnil adalah pentingnya menjaga kondisi fisik. Hal ini penting karena suhu udara di Kota Makkah pada siang hari saat ini mencapai 46 derajat Celsius, sehingga jemaah diminta untuk benar-benar menjaga stamina agar tetap prima.

“Persiapkan fisik sebaik mungkin. Konsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, dan jangan sampai kelelahan. Puncak haji membutuhkan tenaga dan daya tahan yang kuat,” pesan Mas Dahnil kepada jemaah.

Menurutnya, kesehatan menjadi modal utama agar seluruh rangkaian ibadah, khususnya saat Armuzna, dapat dijalankan dengan lancar dan khusyuk.

Selain kesiapan fisik, Mas Dahnil juga mengingatkan pentingnya menjaga niat selama berada di Tanah Suci. Ia menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan panggilan suci untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

https://storage.pojokaplikasi.com/files/lenteramu-or-id/1761627390481-646270367.png"); background-size: cover; background-position: center center; background-repeat: no-repeat;">
 

“Ibadah haji adalah ibadah yang sangat istimewa karena merangkum seluruh unsur pengorbanan baik materi (maliyah), hati (qolbiyah), maupun fisik (badaniyah),” ujar Dahnil.

Dahnil juga mengingatkan agar jemaah tidak teralihkan oleh hal-hal di luar esensi ibadah.

“Kita datang ke tanah suci ini bukan untuk rekreasi atau belanja. Jaga niat itu agar tetap menyala di dalam dada, bahwa perjalanan ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt,” tegas Dahnil.

Mas Dahnil menambahkan, jika niat sudah kuat dan lurus karena Allah Swt., maka apa pun tantangan yang dihadapi selama menjalankan ibadah harus diterima dengan ikhlas dan dijalani dengan penuh kesabaran serta senyuman.

Sholikin Jamik selaku ketua KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro yang mewakili bertemu dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah saat di hotel, mengucapkan terima kasih.

Kunjungan Wakil Kementerian Haji dan Umrah tersebut disambut hangat oleh seluruh jemaah asal Bojonegoro. Mereka mengaku bersyukur atas perhatian dan motivasi yang diberikan menjelang fase terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji.

Dari Tanah Suci, para jemaah juga memohon doa restu dari seluruh masyarakat Kabupaten Bojonegoro agar seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar, diberikan kesehatan, serta mampu menuntaskan seluruh rukun, wajib, dan sunnah haji dengan sempurna.

Pelaksanaan ibadah haji ini diharapkan berlangsung lancar dan aman, sehingga seluruh jemaah dapat kembali ke tanah air dengan membawa predikat Haji Mabrur. Amin Ya Rabbal Alamin.

Sumber : https://lenteramu.or.id/post/wakil-kementerian-haji-dan-umrah-menyambangi-jamaah-haji-bojonegoro-di-makkah-titip-pesan-untuk-menjaga-fisik-dan-meluruskan-niat-ibadah/

Arti Nafar Awal dan Nafar Tsani

https://upwarta.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260523_130506-768x1094.jpg 768w" sizes="(max-width: 874px) 100vw, 874px" style="box-sizing: border-box; vertical-align: middle; height: auto; max-width: 100%; width: 683.328px;">

Oleh; Sholikhin Jamik

Ada pertanyaan dari jamaah haji yang isinya ; Gus Kaji, minta pencerahan : Tentang kedudukan Nafar Awal dan Nafar Tsani itu bagaimana ? Itu pilihan, boleh dikerjakan salah satu atau harus dikerjakan keduanya ?

Jawaban
Nafar awal dan Nafar Tsani itu istilah untuk waktu pulang dari Mina setelah selesai lempar jumrah di hari Tasyrik.

Dua-duanya ada di QS. Al-Baqarah: 203
“…Barangsiapa yang ingin cepat berangkat [dari Mina] sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan, maka tidak ada dosa pula baginya…”kepulangannya]

1. Nafar Awal

Arti: Pulang lebih awal dari Mina
Waktu: Setelah lempar jumrah tanggal *12 Dzulhijjah* sebelum Maghrib

Jadi kalau kamu pilih nafar awal:
– Hari 11 Dzulhijjah: lempar 3 jumrah setelah zawal
– Hari 12 Dzulhijjah: lempar 3 jumrah lagi setelah zawal
– Setelah itu langsung keluar dari Mina sebelum matahari terbenam

Kalau lewat Maghrib masih di Mina, maka gugur opsi nafar awal. Otomatis jadi nafar tsani.

Hikmah: Untuk jamaah yang lemah, tua, sakit, atau khawatir desak-desakan. Nabi ? membolehkan.

2. Nafar Tsani

Arti: Pulang belakangan dari Mina
*Waktu*: Setelah lempar jumrah tanggal *13 Dzulhijjah*

Jadi kalau pilih nafar tsani:
– Hari 11 Dzulhijjah: lempar 3 jumrah
– Hari 12 Dzulhijjah: lempar 3 jumrah
– Hari 13 Dzulhijjah: lempar 3 jumrah lagi setelah zawal
– Baru keluar dari Mina

Ini yang lebih utama dan lebih sesuai sunnah Nabi ?. Beliau mabit di Mina sampai tanggal 13.

Hikmah: Dapat lebih banyak pahala mabit, dzikir, dan doa di Mina. Hari 13 Dzulhijjah masih termasuk hari Tasyrik yang diperintah untuk banyak berdzikir.

3. Perbedaan Praktisnya
Nafar Awal Nafar Tsani
Hari keluar Mina 12 Dzulhijjah, sebelum Maghrib 13 Dzulhijjah, setelah zawal
Jumlah lempar jumrah 3 hari: 10, 11, 12 Dzulhijjah 4 hari: 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah
Hukum Mubah/boleh Lebih utama/sunnah
Cocok untuk jamaah tua, sakit, rombongan besar yang takut macet Jamaah yang kuat dan ingin maksimalkan pahala
4. Yang penting diingat

1. Tidak ada dosa mau pilih nafar awal atau tsani. Keduanya sah.
2. Syarat nafar awal: harus sudah keluar dari batas Mina sebelum Maghrib 12 Dzulhijjah. Kalau kemacetan bikin telat, maka wajib nginap dan lempar lagi tanggal 13.
3. Tanggal 13 Dzulhijjah tetap ada lempar jumrah. Banyak orang salah kira tanggal 13 cuma istirahat.
Singkatnya:
Nafar awal = pulang cepat tanggal 12.
Nafar tsani = pulang lambat tanggal 13.

Nabi ? memilih nafar tsani. Tapi kalau kondisi nggak memungkinkan, nafar awal juga dapat pahala insyaAllah.

Dan harus memilih salah satunya, tidak mungkin di lakukan dua duanya,

Sumber : https://upwarta.com/arti-nafar-awal-dan-nafar-tsani/

ZONA INTEGRITAS WBK Wilayah Bebas dari Korupsi
Logo WBK
Logo BerAKHLAK
Logo Bangga Melayani Bangsa
SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT IKM 3,98 / 4,00 Sangat Baik Isi Survei Sekarang
LIVE CCTV